PSAK 105 — Aset Tidak Lancar yang Dikuasai untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan

PSAK 105 mengatur reklasifikasi aset tidak lancar/kelompok lepasan yang pemulihannya lewat penjualan. Jika siap dijual dan sangat mungkin terjual ≤1 tahun, aset diukur pada nilai lebih rendah antara nilai tercatat dan nilai wajar dikurangi biaya jual, depresiasi dihentikan, dan operasi dihentikan disajikan terpisah.

🗓️ Update: 03 Jan 2026 ⏱️ Estimasi baca: 4 menit 🔤 ±799 kata
📘 Artikel PSAK

Mulai 1 Januari 2025, standar akuntansi di Indonesia mengalami pembaruan penting dengan berlakunya PSAK 105. Standar ini menggantikan aturan lama (PSAK 58) dan menjadi pedoman utama bagi perusahaan yang berencana menjual aset tetap atau menutup lini bisnis tertentu.

Bagi Anda yang menyusun laporan keuangan, memahami PSAK 105 sangatlah krusial. Standar ini memastikan bahwa aset yang "mau dijual" tidak lagi dicampuradukkan dengan aset yang "sedang dipakai". Tujuannya jelas agar investor tidak salah membaca kinerja operasional perusahaan yang sebenarnya.

Apa Inti dari PSAK 105?

Secara sederhana, PSAK 105 mengatur dua hal utama. Pertama adalah Aset Tidak Lancar yang Dikuasai untuk Dijual. Ini berlaku ketika perusahaan berniat memulihkan nilai aset melalui penjualan, bukan melalui pemakaian operasional sehari-hari. Contoh sederhananya adalah mesin pabrik yang sudah tidak dipakai dan sedang ditawarkan ke pembeli.

Kedua adalah Operasi yang Dihentikan. Ini mencakup komponen perusahaan yang lebih besar, seperti satu divisi bisnis atau cabang di wilayah geografis tertentu yang dilepas atau ditutup total.

Kapan Aset Boleh Diklasifikasikan "Untuk Dijual"?

Tidak sembarang aset bisa langsung dikategorikan sebagai "dikuasai untuk dijual". PSAK 105 menetapkan syarat yang ketat agar perusahaan tidak memanipulasi laporan keuangan. Sebuah aset baru boleh direklasifikasi jika memenuhi serangkaian kondisi spesifik.

Kondisi utamanya adalah aset tersebut harus siap dijual segera dalam keadaannya saat ini tanpa perlu renovasi besar-besaran. Selain itu, harus ada komitmen manajemen yang kuat, biasanya ditandai dengan keputusan resmi direksi dan dimulainya program pemasaran aktif untuk mencari pembeli. Penjualan ini juga harus diproyeksikan selesai dalam waktu satu tahun sejak tanggal reklasifikasi.

Aturan Main Pengukuran Nilai

Bagian ini sering menjadi jebakan bagi akuntan. Saat sebuah aset masuk kategori PSAK 105, cara menilainya berubah.

Anda harus membandingkan Nilai Tercatat (Buku) dengan Nilai Wajar dikurangi Biaya Penjualan (Fair Value Less Costs to Sell - FVLCTS). Mana yang lebih rendah, itulah angka yang dimasukkan ke laporan keuangan.

Poin Paling Penting: Begitu aset diklasifikasikan sebagai "dikuasai untuk dijual", Anda wajib MENGHENTIKAN DEPRESIASI. Aset tersebut tidak boleh lagi disusutkan karena nilainya kini bergantung pada harga jual, bukan pemakaian.

Studi Kasus 1: Penjualan Aset Tunggal

Mari kita lihat contoh penerapannya pada PT Manufaktur yang memiliki mesin produksi dengan nilai buku Rp500 juta. Pada 1 Juli 2024, manajemen memutuskan untuk menjual mesin tersebut.

Langkah 1: Uji Penurunan Nilai (Impairment Test) Sebelum reklasifikasi, kita harus mengecek nilai wajarnya. Misalkan harga jual estimasi adalah Rp450 juta, namun ada biaya penjualan (broker, legal) sebesar Rp20 juta. Maka, Nilai Wajar Bersih (FVLCTS) adalah Rp430 juta.

Karena nilai pasar bersih (Rp430 juta) lebih rendah dari nilai buku (Rp500 juta), perusahaan harus mengakui kerugian sebesar Rp70 juta saat itu juga.

Jurnal Penyesuaian Awal (1 Juli 2024):

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Beban Kerugian Penurunan Nilai Aset

70.000.000

 

Akumulasi Penyusutan / Aset Tetap

 

70.000.000

Jurnal Reklasifikasi:

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Aset Dikuasai untuk Dijual (Aset Lancar)

430.000.000

 

Aset Tetap (Mesin)

 

430.000.000

Catatan: Mulai tanggal ini, mesin tidak lagi disusutkan.

Evaluasi Lanjutan (30 September 2024) Tiga bulan kemudian, nilai pasar mesin turun lagi menjadi Rp440 juta dengan biaya jual tetap Rp20 juta, sehingga nilai bersih baru adalah Rp420 juta. Karena nilai tercatat terakhir adalah Rp430 juta, maka ada penurunan nilai tambahan sebesar Rp10 juta.

Jurnal Penyesuaian Lanjutan:

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Beban Kerugian Penurunan Nilai

10.000.000

 

Aset Dikuasai untuk Dijual

 

10.000.000

Studi Kasus 2: Kelompok Lepasan (Disposal Group)

Kasus ini lebih kompleks. PT Teknologi Indonesia memutuskan menjual satu divisi bisnisnya, yaitu Divisi Perangkat Keras, lengkap dengan seluruh aset dan utangnya. Ini disebut Disposal Group.

Divisi ini memiliki total aset (Kas, Piutang, Inventori, Aset Tetap, Goodwill) senilai Rp1.800 juta dan total liabilitas sebesar Rp600 juta. Sehingga, nilai buku bersihnya adalah Rp1.200 juta.

Berdasarkan valuasi, harga jual divisi ini diestimasi Rp1.250 juta, dengan biaya penjualan Rp80 juta. Maka, nilai wajar bersihnya adalah Rp1.170 juta.

Jika kita bandingkan, Nilai Buku (Rp1.200 juta) lebih tinggi dari Nilai Wajar Bersih (Rp1.170 juta). Terdapat kerugian penurunan nilai sebesar Rp30 juta. Menurut PSAK 105, kerugian ini harus dialokasikan terlebih dahulu untuk menghapus Goodwill, baru sisanya ke aset tidak lancar lainnya.

Jurnal Pengakuan Kerugian:

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Beban Kerugian Impairment

30.000.000

 

Goodwill

 

30.000.000

Setelah jurnal ini, nilai tercatat kelompok lepasan di neraca menjadi Rp1.170 juta.

Mengapa Laporan Laba Rugi Harus Terpisah?

Salah satu fitur utama PSAK 105 adalah kewajiban menyajikan Operasi yang Dihentikan secara terpisah di laporan laba rugi.

Bayangkan sebuah perusahaan ritel menutup seluruh cabangnya di satu pulau. Pendapatan dan beban dari cabang-cabang yang tutup ini harus dipisahkan dari operasional cabang lain yang masih berjalan.

Contoh Penyajian di Laporan Laba Rugi:

Keterangan

Operasi Berjalan

Operasi Dihentikan

Total

Pendapatan

5.000.000

800.000

5.800.000

Beban Operasional

(3.500.000)

(600.000)

(4.100.000)

Laba Operasional

1.500.000

200.000

1.700.000

Pajak & Lainnya

(450.000)

(102.500)

(552.500)

LABA BERSIH

1.050.000

97.500

1.147.500

Pemisahan ini membantu investor melihat "kesehatan murni" perusahaan. Mereka bisa membedakan mana laba yang akan terus berlanjut di masa depan (sustainable earnings) dan mana laba atau rugi yang hanya terjadi sekali karena penutupan bisnis.

Transisi ke PSAK 105 mungkin akan memicu pengakuan kerugian di awal karena penyesuaian nilai wajar, namun hal ini akan memberikan transparansi yang jauh lebih baik bagi para pemangku kepentingan perusahaan Anda.

Untuk mempelajari lebih lanjut, silakan akses materi pada powerpoint di samping ini.