PSAK 223 — Biaya Pinjaman

PSAK 223 mengatur biaya pinjaman: yang dapat diatribusikan langsung pada perolehan/konstruksi/produksi aset kualifikasian dikapitalisasi, sedangkan lainnya dibebankan. Kapitalisasi dimulai saat pengeluaran, biaya pinjaman, dan aktivitas persiapan terjadi; berhenti saat aset siap digunakan/dijual, dan disuspensi saat penghentian lama.

🗓️ Update: 03 Jan 2026 ⏱️ Estimasi baca: 7 menit 🔤 ±1,314 kata
📘 Artikel PSAK

Apa Itu PSAK 223?

PSAK 223 adalah standar akuntansi Indonesia yang mengatur biaya pinjaman (borrowing costs), yaitu bunga dan biaya lainnya yang ditanggung entitas sehubungan dengan peminjaman dana. Standar ini merupakan penomoran ulang dari PSAK 26, disahkan pada 12 Desember 2022, efektif berlaku untuk periode pelaporan pada atau setelah 1 Januari 2025, dan selaras dengan IAS 23.

Perubahan penomoran dari PSAK 26 ke PSAK 223 bersifat administratif untuk harmonisasi dengan IFRS, tanpa perubahan substansi akuntansi yang signifikan. Tujuan utama standar ini adalah memberikan panduan kapan biaya pinjaman dapat dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan aset, dan kapan harus dibebankan langsung ke laba rugi.

Mengapa PSAK 223 Penting?

Banyak perusahaan Indonesia, terutama di industri konstruksi, real estate, manufaktur, dan infrastruktur, memiliki proyek jangka panjang yang memerlukan pendanaan signifikan:

     Pembangunan pabrik dengan pinjaman Rp 500 miliar.

     Konstruksi gedung bertingkat dengan pendanaan bank.

     Proyek infrastruktur dengan pendanaan multilateral.

     Pengembangan properti dengan obligasi khusus proyek.

Pertanyaan kunci: Haruskah biaya pinjaman (bunga) diakui sebagai beban langsung, atau dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan aset?

PSAK 223 menjawab: biaya pinjaman yang dapat diatribusikan langsung kepada perolehan, konstruksi, atau produksi aset kualifikasian harus dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan aset tersebut.

Definisi Biaya Pinjaman

Biaya pinjaman adalah bunga dan biaya lainnya yang ditanggung entitas sehubungan dengan peminjaman dana.

1. Yang Termasuk Biaya Pinjaman

     Bunga Pinjaman: Bunga atas cerukan bank (overdraft), pinjaman jangka pendek/panjang, obligasi, atau surat utang.

     Biaya Keuangan Sewa: Lease financing charges sesuai PSAK 240 (Sewa) dan bunga implisit dalam sewa pembiayaan.

     Selisih Kurs Pinjaman Valas: Hanya bagian yang diperlakukan sebagai penyesuaian biaya bunga.

     Biaya Terkait Pinjaman: Komisi, biaya kredit, asuransi terkait pinjaman, provisi, dan administrasi yang dapat diatribusikan.

2. Yang BUKAN Biaya Pinjaman

     Biaya administrasi pinjaman yang bersifat umum.

     Denda keterlambatan pembayaran pinjaman.

     Biaya debt restructuring atau refinancing.

     Biaya overhead kantor pinjaman.

Aset Kualifikasian (Qualifying Asset)

Aset kualifikasian adalah aset yang memerlukan periode waktu yang substansial untuk mempersiapkannya agar dapat digunakan atau dijual sesuai dengan tujuannya.

1. Kriteria "Periode Waktu Substansial"

Meskipun PSAK 223 tidak memberikan definisi numerik yang pasti, praktik industri umumnya:

     Minimal 6 bulan konstruksi atau persiapan.

     Nilai aset material.

     Aktivitas persiapan aktif dan berkelanjutan.

2. Contoh Aset Kualifikasian

     Real Estate dan Properti: Gedung bertingkat, perumahan, hotel, mall.

     Infrastruktur: Pembangkit listrik, pabrik pengolahan air, jalan tol, bandara.

     Manufaktur dan Industri: Pabrik, fasilitas produksi, kilang minyak.

     Pertambangan: Fasilitas pengolahan mineral, infrastruktur tambang.

3. Contoh Aset BUKAN Kualifikasian

     Aset yang siap pakai (ready-made equipment).

     Persediaan yang diproduksi dalam waktu normal.

     Aset yang persiapannya cepat (< 6 bulan).

     Aset keuangan.

     Persediaan yang diproduksi berulang-ulang dalam jumlah besar.

Prinsip Kapitalisasi Biaya Pinjaman

PSAK 223 menggunakan prinsip dasar bahwa biaya pinjaman yang dapat diatribusikan langsung kepada aset kualifikasian harus dikapitalisasi. Biaya pinjaman lainnya diakui sebagai beban.

1. Tiga Kondisi Mulai Kapitalisasi

Kapitalisasi dimulai ketika ketiga kondisi berikut terpenuhi secara simultan:

1.    Pengeluaran untuk aset telah terjadi: Ada pembayaran kas atau komitmen pasti.

2.    Biaya pinjaman telah terjadi: Dana telah dipinjam dan bunga berjalan.

3.    Aktivitas persiapan telah dimulai: Ada aktivitas konstruksi/fisik, bukan hanya administratif.

2. Contoh

PT ABC memulai pembangunan pabrik:

     1 Jan: Tanda tangan pinjaman.

     1 Feb: Bayar DP kontraktor.

     15 Feb: Kontraktor mulai persiapan lahan.

     1 Mar: Terima pencairan pinjaman.

Mulai Kapitalisasi: 15 Februari (Saat ketiga kondisi terpenuhi).

Periode Kapitalisasi

1. Kapan Mulai Kapitalisasi

Kapitalisasi dimulai pada tanggal pertama ketika ketiga kondisi (pengeluaran, biaya pinjaman, aktivitas) terpenuhi.

2. Kapan Berhenti Kapitalisasi

Kapitalisasi berhenti ketika:

     Aset Selesai: Aset telah selesai dipersiapkan dan siap digunakan/dijual. Biaya pinjaman setelah tanggal ini masuk beban laba rugi.

     Aktivitas Dihentikan (Suspense): Aktivitas konstruksi dihentikan untuk periode yang lama.

(Catatan: Jika aset selesai sebagian, bagian yang selesai berhenti dikapitalisasi, bagian yang belum selesai lanjut dikapitalisasi).

Suspense Kapitalisasi

1. Definisi

Suspense kapitalisasi terjadi ketika aktivitas yang diperlukan untuk mempersiapkan aset dihentikan sementara. Selama periode ini, biaya pinjaman TIDAK dikapitalisasi.

2. Kapan Suspense Terjadi

     Masalah teknis/konstruksi.

     Masalah finansial (kehabisan dana).

     Masalah regulasi (menunggu izin).

     Force Majeure (bencana alam, pandemi).

3. Kapan Suspense TIDAK Terjadi

     Penundaan normal (weather delays).

     Periode inspeksi/kualitas.

     Fase transisi atau pengadaan normal.

4. Contoh Perhitungan Suspense

Pembangunan Mall: Jan-Mar (Normal), Apr-Mei (Berhenti krn cacat struktur), Jun-Des (Normal). Total bunga Rp 5 M/bulan.

Periode

Durasi

Status

Jumlah (Rp)

Jan - Mar

3 Bulan

Kapitalisasi

15.000.000.000

Apr - Mei

2 Bulan

Suspense (Beban)

10.000.000.000

Jun - Des

7 Bulan

Kapitalisasi

35.000.000.000

Total 2024

 

 

60.000.000.000

(Total Dikapitalisasi: Rp 50 Miliar)

Dua Metode Perhitungan Kapitalisasi

1. Metode 1: Pinjaman Spesifik (Specific Borrowings)

Pinjaman yang diperoleh khusus untuk aset tertentu.

Rumus: Biaya Dikapitalisasi = Biaya Pinjaman Aktual - Penghasilan Investasi Dana Sementara

2. Metode 2: Pinjaman Umum (General Borrowings)

Pinjaman untuk tujuan umum yang sebagian dananya dipakai untuk aset kualifikasian.

Rumus:

1.    Hitung Rata-rata Tertimbang: Total Biaya Bunga / Total Pokok Pinjaman

2.    Hitung Kapitalisasi: Rata-rata Tertimbang × Rata-rata Saldo Aset (CWIP)

(Catatan: Jumlah dikapitalisasi tidak boleh melebihi biaya bunga aktual).

Contoh Kasus 1: Pinjaman Spesifik

1. Skenario

PT ABC Construction meminjam Rp 500 Miliar (Term Loan) dari Bank BRI khusus untuk gedung kantor.

     Bunga: 9% per tahun.

     Konstruksi: Jan - Nov 2024 (11 bulan).

     Dana menganggur rata-rata Rp 200 M diinvestasikan (bunga 5%).

2. Perhitungan

Komponen

Perhitungan

Jumlah (Rp)

Biaya Pinjaman Aktual

500 M × 9%

45.000.000.000

(-) Investasi Income

200 M × 5%

(10.000.000.000)

Biaya Bunga Neto

 

35.000.000.000

Dikapitalisasi (11/12)

35 M × (11/12)

32.083.333.333

3. Jurnal

Januari - November (Bulanan):

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Beban Bunga Pinjaman

3.750.000.000

 

Hutang Bunga

 

3.750.000.000

November (Kapitalisasi Kumulatif):

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Aset Tetap - Konstruksi Dalam Proses

32.083.333.333

 

Beban Bunga Pinjaman

 

32.083.333.333

Desember (Aset Selesai): Bunga Desember dibebankan ke Laba Rugi (tidak dikapitalisasi).

Contoh Kasus 2: Pinjaman Umum

1. Skenario

PT Manufaktur Bekasi menggunakan dana dari pinjaman umum untuk konstruksi pabrik.

     Pinjaman A: Rp 300 M @ 10%.

     Pinjaman B: Rp 200 M @ 11%.

     Saldo Rata-rata Konstruksi Pabrik: Rp 375 M.

2. Perhitungan Rate & Kapitalisasi

A. Hitung Weighted Average Rate:

Pinjaman

Pokok (Rp)

Bunga (Rp)

Pinjaman A (10%)

300.000.000.000

30.000.000.000

Pinjaman B (11%)

200.000.000.000

22.000.000.000

Total

500.000.000.000

52.000.000.000

Rate = 52 M / 500 M = 10,4%

B. Hitung Kapitalisasi: Biaya Dikapitalisasi = 10,4% × Rp 375 M = Rp 39.000.000.000

(Cek: Rp 39 M < Total Bunga Rp 52 M. OK).

3. Jurnal Akhir Tahun

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Aset Tetap - Konstruksi Dalam Proses

39.000.000.000

 

Beban Bunga Pinjaman

 

39.000.000.000

Contoh Kasus 3: Suspense Kapitalisasi

1. Skenario

PT Properti membangun Mall. Pinjaman Rp 600 M @ 9%.

     Konstruksi: Jan - Des.

     Suspense: Apr - Jun (3 bulan) karena masalah izin.

2. Perhitungan

Total Bunga 2024 = Rp 600 M × 9% = Rp 54 M.

Periode

Status

Durasi

Jumlah (Rp)

Jan - Mar

Kapitalisasi

3 Bulan

13.500.000.000

Apr - Jun

Beban (Suspense)

3 Bulan

13.500.000.000

Jul - Des

Kapitalisasi

6 Bulan

27.000.000.000

Total Dikapitalisasi

 

 

40.500.000.000

3. Jurnal (Saat Suspense)

30 Juni 2024:

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Beban Bunga Pinjaman

13.500.000.000

 

Hutang Bunga

 

13.500.000.000

(Bunga periode April-Juni diakui sebagai beban, tidak dikapitalisasi)

Pengungkapan Wajib dalam CALK

PSAK 223 mengharuskan pengungkapan komprehensif:

1. Kebijakan Akuntansi

Menjelaskan dasar kapitalisasi (aset kualifikasian > 6 bulan), perlakuan investasi sementara, dan metode rate untuk pinjaman umum.

2. Jumlah Biaya Pinjaman yang Dikapitalisasi

Contoh Format:

Keterangan

Jumlah (Rp)

Biaya pinjaman yang terjadi

150.000.000.000

Dikurangi: Investasi income

(5.000.000.000)

Dikurangi: Biaya pinjaman dibebankan

(40.000.000.000)

Biaya pinjaman dikapitalisasi

105.000.000.000

Tarif kapitalisasi rata-rata

8,5%

3. Rincian per Proyek (Opsional)

Informasi status proyek (persentase penyelesaian) dan estimasi tanggal selesai untuk aset dalam konstruksi utama.

Dampak pada Laporan Keuangan

1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

Aset Tetap (Konstruksi Dalam Proses):

Komponen

Jumlah (Rp)

Biaya konstruksi langsung

450.000.000.000

Biaya pinjaman dikapitalisasi

50.000.000.000

Total Nilai Aset

500.000.000.000

(Kapitalisasi meningkatkan nilai aset di neraca)

2. Laporan Laba Rugi

Komponen

Jumlah (Rp)

Biaya pinjaman total

100.000.000.000

Dikurangi: dikapitalisasi ke aset

(50.000.000.000)

Beban bunga neto (Laba Rugi)

50.000.000.000

(Kapitalisasi mengurangi beban bunga periode berjalan, meningkatkan laba)

Kesimpulan

PSAK 223 memberikan kerangka kerja komprehensif untuk akuntansi biaya pinjaman di Indonesia. Penerapan yang benar memerlukan pemahaman mendalam tentang konsep aset kualifikasian, tiga kondisi kapitalisasi, dan perbedaan antara pinjaman spesifik dan pinjaman umum.

Kunci penerapan PSAK 223 adalah identifikasi yang tepat aset kualifikasian, penentuan periode kapitalisasi yang akurat, dan perhitungan kapitalisasi yang sesuai metode (spesifik vs umum). Untuk proyek konstruksi, monitoring yang ketat atas aktivitas konstruksi diperlukan untuk menentukan kapan suspense kapitalisasi terjadi.

Transisi dari PSAK 26 ke PSAK 223 relatif mudah karena tidak ada perubahan substansi. Perusahaan hanya perlu memperbarui referensi standar dalam kebijakan akuntansi dan dokumentasi. Yang paling penting adalah dokumentasi yang jelas tentang link antara pinjaman dan aset, perhitungan kapitalisasi yang akurat dan konsisten, dan pengungkapan yang transparan untuk memberikan informasi lengkap kepada pengguna laporan keuangan tentang dampak kapitalisasi terhadap posisi keuangan dan laba rugi.

Balancio Indo siap membantu perusahaan Anda dalam menerapkan PSAK 223, mulai dari identifikasi aset kualifikasian, penentuan periode kapitalisasi yang tepat, perhitungan kapitalisasi untuk pinjaman spesifik dan umum, monitoring aktivitas konstruksi untuk suspense kapitalisasi, hingga penyusunan pengungkapan yang memadai di CALK.

Untuk mempelajari lebih lanjut, silakan akses materi pada powerpoint di samping ini.