Bagi Anda yang berkecimpung di dunia korporasi atau holding company, tahun 2024 membawa perubahan administratif yang penting dalam standar pelaporan keuangan. PSAK 110 kini resmi berlaku menggantikan nomor standar lama PSAK 65 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian.
Perubahan ini merupakan langkah strategis Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI untuk menyelaraskan penomoran standar lokal dengan IFRS 10 yang berlaku global. Artikel ini akan membahas inti dari PSAK 110, konsep pengendalian, hingga teknis penjurnalan eliminasi yang sering menjadi tantangan bagi akuntan perusahaan grup.
Apa Itu PSAK 110
PSAK 110 adalah standar akuntansi yang mewajibkan entitas induk untuk menyajikan laporan keuangan kelompok usaha seolah-olah mereka adalah satu entitas ekonomi tunggal. Artinya aset, liabilitas, ekuitas, penghasilan, dan beban dari induk serta seluruh anak perusahaan digabungkan menjadi satu laporan terpadu.
Tujuannya sangat jelas yaitu memberikan gambaran komprehensif mengenai kesehatan finansial grup bisnis secara keseluruhan kepada investor dan kreditur, yang mungkin tidak terlihat jika hanya melihat laporan keuangan induk saja secara terpisah.
Prinsip Utama Pengendalian
Kunci utama dari PSAK 110 adalah konsep "Pengendalian" atau Control. Sebuah perusahaan dikatakan sebagai induk dan wajib mengonsolidasi laporan keuangan perusahaan lain jika memenuhi tiga syarat kumulatif berikut ini.
Pertama adalah Kekuasaan (Power) di mana investor memiliki hak untuk mengarahkan aktivitas relevan yang berdampak signifikan pada kinerja perusahaan anak.
Kedua adalah Imbal Hasil Variabel yang berarti investor terekspos dengan naik turunnya kinerja perusahaan anak, baik itu berupa dividen maupun perubahan nilai aset.
Ketiga adalah Hubungan antara Kekuasaan dan Imbal Hasil di mana investor mampu menggunakan kekuasaannya untuk mempengaruhi jumlah imbal hasil yang diterimanya. Jika salah satu dari ketiga elemen ini hilang, maka hubungan tersebut mungkin hanya investasi biasa dan bukan pengendalian.
Teknis Konsolidasi dan Eliminasi
Dalam menyusun laporan konsolidasian, tantangan terbesar biasanya terletak pada proses eliminasi. Transaksi antar perusahaan dalam satu grup harus dihapus sepenuhnya karena dari kacamata grup, transaksi tersebut seolah tidak pernah terjadi (hanya memindahkan uang dari kantong kiri ke kantong kanan).
Berikut adalah contoh teknis dan jurnal eliminasi untuk kasus yang paling umum terjadi.
Studi Kasus Akuisisi dan Eliminasi
Mari kita asumsikan PT Induk Sejahtera membeli 75% saham PT Anak Maju seharga Rp750 juta. Pada saat itu nilai wajar aset neto PT Anak adalah Rp800 juta dan nilai wajar Kepentingan Non-Pengendali (pihak minoritas) adalah Rp250 juta.
Dari data ini kita bisa menghitung Goodwill (aset tak berwujud dari selisih harga beli) sebesar Rp200 juta. Angka ini didapat dari total nilai perusahaan (Rp750 juta + Rp250 juta) dikurangi nilai aset neto (Rp800 juta).
Jurnal Eliminasi Saat Konsolidasi
Jurnal ini dibuat hanya di kertas kerja konsolidasi untuk menghapus akun investasi dan memunculkan aset anak perusahaan.
|
Akun |
Debit (Rp) |
Kredit (Rp) |
|
Aset Neto PT Anak |
800.000.000 |
|
|
Goodwill |
200.000.000 |
|
|
Investasi di PT Anak Maju |
|
750.000.000 |
|
Kepentingan Non-Pengendali |
|
250.000.000 |
Eliminasi Penjualan Antar Perusahaan
Kasus umum lainnya adalah penjualan barang dagang antar entitas. Misalkan PT Induk menjual barang ke PT Anak seharga Rp100 juta (dengan harga pokok Rp80 juta). Hingga akhir tahun barang tersebut masih ada di gudang PT Anak.
Secara grup belum ada penjualan keluar ke pihak ketiga, sehingga keuntungan Rp20 juta yang diakui PT Induk adalah keuntungan semu yang harus dieliminasi.
Jurnal Eliminasi Penjualan
|
Akun |
Debit (Rp) |
Kredit (Rp) |
|
Penjualan |
100.000.000 |
|
|
Beban Pokok Penjualan |
|
100.000.000 |
Jurnal Eliminasi Profit dalam Persediaan
|
Akun |
Debit (Rp) |
Kredit (Rp) |
|
Beban Pokok Penjualan |
20.000.000 |
|
|
Persediaan |
|
20.000.000 |
Dengan jurnal di atas, nilai persediaan di laporan konsolidasi akan kembali ke nilai perolehan awal yaitu Rp80 juta, dan angka penjualan yang "gelembung" akibat transaksi internal akan hilang.
Pentingnya Kepentingan Non-Pengendali
PSAK 110 juga menekankan penyajian Kepentingan Non-Pengendali atau Non-Controlling Interest (NCI). Ini adalah hak milik pemegang saham minoritas atas aset dan laba anak perusahaan.
Dalam laporan posisi keuangan, NCI harus disajikan di bagian ekuitas namun terpisah dari ekuitas pemilik induk. Hal ini penting untuk transparansi agar pemegang saham induk tahu berapa bagian kekayaan bersih grup yang sebenarnya bukan milik mereka sepenuhnya.
Untuk mempelajari lebih banyak materinya silahkan akses slide yang tertera di samping ini.