PSAK 115 — Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan

PSAK 115 mengatur pengakuan pendapatan saat entitas mengalihkan pengendalian barang/jasa kepada pelanggan, sebesar imbalan yang diharapkan. Standar memakai model lima langkah: identifikasi kontrak, kewajiban pelaksanaan, harga transaksi (termasuk variabel), alokasi harga, dan pengakuan pendapatan pada suatu waktu atau sepanjang waktu.

🗓️ Update: 03 Jan 2026 ⏱️ Estimasi baca: 3 menit 🔤 ±536 kata
📘 Artikel PSAK

Tahun 2024 membawa perubahan signifikan dalam lanskap pelaporan keuangan di Indonesia dengan berlakunya PSAK 115 tentang Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan. Standar ini resmi menggantikan PSAK 72 dan menjadi pedoman utama bagi perusahaan di berbagai industri mulai dari manufaktur hingga jasa konstruksi dalam mengakui pendapatan mereka.

Bagi manajemen perusahaan dan tim akuntansi pemahaman mendalam mengenai PSAK 115 sangatlah krusial. Kesalahan dalam penerapan standar ini tidak hanya berdampak pada kepatuhan regulasi tetapi juga dapat mendistorsi gambaran kinerja keuangan perusahaan di mata investor.

Apa Itu PSAK 115 dan Hubungannya dengan IFRS 15

PSAK 115 adalah standar akuntansi yang menetapkan prinsip bahwa pendapatan diakui ketika entitas mengalihkan pengendalian atas barang atau jasa yang dijanjikan kepada pelanggan. Jumlah yang diakui harus mencerminkan imbalan yang diharapkan entitas sebagai ganti atas barang atau jasa tersebut.

Secara substansi PSAK 115 merupakan adopsi penuh dari IFRS 15 Revenue from Contracts with Customers. Perubahan penomoran menjadi tiga digit (115) menegaskan penyelarasan standar lokal Indonesia dengan standar internasional. Hal ini memberikan keuntungan strategis bagi perusahaan Indonesia karena laporan keuangan mereka menjadi lebih mudah dipahami oleh investor global dan dapat diperbandingkan dengan kompetitor internasional.

Model Lima Langkah Pengakuan Pendapatan

PSAK 115 memperkenalkan kerangka kerja yang lebih terstruktur yang dikenal dengan Five-Step Model atau Model Lima Langkah untuk menentukan kapan dan berapa banyak pendapatan yang harus diakui.

Langkah pertama adalah Identifikasi Kontrak dengan pelanggan yang memastikan adanya persetujuan komersial dan hak yang jelas. Langkah kedua adalah Identifikasi Kewajiban Pelaksanaan untuk memisahkan barang atau jasa yang bersifat distinktif. Langkah ketiga adalah Penentuan Harga Transaksi yang mencakup pertimbangan imbalan variabel. Langkah keempat adalah Alokasi Harga Transaksi ke setiap kewajiban pelaksanaan. Terakhir langkah kelima adalah Pengakuan Pendapatan saat kewajiban pelaksanaan telah dipenuhi baik pada satu waktu tertentu maupun sepanjang waktu.

Contoh Kasus dan Jurnal Akuntansi

Untuk memahami penerapannya mari kita lihat dua skenario umum yang sering terjadi dalam praktik bisnis sehari-hari.

1. Penjualan Barang (Pengakuan pada Satu Waktu)

Misalkan PT Retail menjual 50 unit laptop kepada pelanggan korporat dengan total harga Rp750 juta. Pelanggan membayar uang muka Rp300 juta pada 1 Februari dan sisanya saat pengiriman pada 15 Februari.

Jurnal Saat Penerimaan Uang Muka (1 Februari)

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Kas

300.000.000

 

Liabilitas Kontrak

 

300.000.000

Jurnal Saat Pengiriman Barang (15 Februari)

Pada titik ini kendali barang beralih ke pelanggan sehingga pendapatan dapat diakui sepenuhnya. Liabilitas kontrak dibalik dan sisa pembayaran dicatat.

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Kas (Pelunasan sisa)

450.000.000

 

Liabilitas Kontrak

300.000.000

 

Beban Pokok Penjualan

600.000.000

 

Pendapatan Penjualan

 

750.000.000

Persediaan

 

600.000.000

2. Penjualan Bundling Produk dan Jasa (Pengakuan Bertahap)

Kasus yang lebih kompleks terjadi pada penjualan bundling. Asumsikan PT Teknologi menjual mesin printer seharga Rp50 juta yang sudah termasuk paket layanan garansi dan pemeliharaan selama 3 tahun senilai Rp15 juta. Total transaksi adalah Rp65 juta yang dibayar tunai saat pengiriman.

Dalam kasus ini terdapat dua kewajiban pelaksanaan yaitu penyerahan printer (diakui saat pengiriman) dan layanan pemeliharaan (diakui bertahap selama 3 tahun).

Jurnal Saat Pengiriman (5 Maret)

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Kas

65.000.000

 

Beban Pokok Penjualan Printer

40.000.000

 

Pendapatan Penjualan Printer

 

50.000.000

Persediaan Printer

 

40.000.000

Liabilitas Kontrak (Jasa Garansi)

 

15.000.000

Jurnal Pengakuan Pendapatan Jasa Bulanan

Setiap akhir bulan perusahaan akan mengakui sebagian dari pendapatan jasa tersebut (Rp15 juta dibagi 36 bulan).

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Liabilitas Kontrak

416.667

 

Pendapatan Jasa

 

416.667

Penerapan pencatatan terpisah ini memastikan bahwa pendapatan jasa tidak diakui terlalu dini melainkan seiring dengan berjalannya waktu pelayanan kepada pelanggan.

Untuk mempelajari lebih banyak materinya silahkan akses slide yang tertera di samping ini.