PSAK 112 — Pengungkapan Kepentingan dalam Entitas Lain

PSAK 112 mewajibkan entitas mengungkapkan informasi agar pengguna menilai sifat dan risiko kepentingan pada entitas lain—anak perusahaan, asosiasi, ventura bersama, hingga entitas terstruktur tidak dikonsolidasi—serta eksposur risiko dan potensi keuntungan. Pengungkapan menekankan pertimbangan manajemen atas pengendalian, pengendalian bersama, atau pengaruh signifikan.

🗓️ Update: 03 Jan 2026 ⏱️ Estimasi baca: 3 menit 🔤 ±500 kata
📘 Artikel PSAK

Perubahan standar akuntansi di Indonesia terus bergulir demi mencapai keselarasan dengan praktik global. Mulai 1 Januari 2024 PSAK 112 resmi menggantikan PSAK 67 sebagai standar utama yang mengatur bagaimana perusahaan harus mengungkapkan kepentingannya di entitas lain.

Bagi akuntan perusahaan dan auditor pemahaman mendalam tentang standar ini sangat krusial. Tidak hanya sekadar perubahan nomor PSAK 112 membawa semangat transparansi yang lebih kuat dalam pelaporan keuangan korporasi di Indonesia.

Apa Itu PSAK 112

PSAK 112 adalah standar akuntansi yang mewajibkan entitas pelapor untuk mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan mengevaluasi sifat dan risiko yang terkait dengan kepentingannya dalam entitas lain. Standar ini mencakup berbagai bentuk investasi mulai dari anak perusahaan entitas asosiasi ventura bersama hingga entitas terstruktur yang tidak dikonsolidasi.

Tujuannya sederhana namun fundamental yaitu agar investor dapat melihat gambaran utuh tentang seberapa besar eksposur risiko dan potensi keuntungan yang dimiliki perusahaan induk terhadap anak-anak usahanya.

Hubungan dengan Standar Internasional IFRS 12

Perubahan menjadi PSAK 112 merupakan langkah strategis harmonisasi standar akuntansi Indonesia dengan International Financial Reporting Standards atau IFRS. Secara spesifik PSAK 112 mengadopsi prinsip-prinsip dalam IFRS 12 Disclosure of Interests in Other Entities.

Sistem penomoran tiga digit yang baru (angka 1 di depan) menandakan bahwa standar ini mengadopsi penuh standar internasional. Hal ini memberikan sinyal positif bagi investor asing bahwa laporan keuangan perusahaan Indonesia kini semakin dapat diperbandingkan comparable dengan perusahaan global. Meskipun demikian PSAK 112 tetap mempertahankan beberapa penyesuaian kecil untuk mengakomodasi regulasi lokal yang tidak mengubah substansi utamanya.

Contoh Kasus dan Teknis Penjurnalan

Penerapan PSAK 112 paling terasa dampaknya pada saat penyajian investasi di laporan keuangan tersendiri. Berikut adalah ilustrasi teknis bagaimana transaksi investasi dicatat.

1. Investasi pada Entitas Anak (Metode Ekuitas)

Misalkan PT Alpha membeli 100% saham PT Beta seharga Rp5 miliar pada awal tahun. Di akhir tahun PT Beta melaporkan laba bersih Rp800 juta dan membagikan dividen tunai sebesar Rp300 juta.

Jika PT Alpha menggunakan metode ekuitas dalam laporan tersendirinya maka pencatatannya adalah sebagai berikut.

Jurnal Pengakuan Laba Anak Perusahaan

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Investasi dalam PT Beta

800.000.000

 

Bagian Laba dari PT Beta

 

800.000.000

Jurnal Penerimaan Dividen

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Kas

300.000.000

 

Investasi dalam PT Beta

 

300.000.000

Dengan metode ini saldo investasi PT Alpha akan bertumbuh seiring dengan pertumbuhan laba PT Beta yang ditahan.

2. Investasi pada Ventura Bersama

Kasus berbeda terjadi pada pengendalian bersama. Misalnya PT Epsilon dan PT Zeta mendirikan PT Eta sebagai ventura bersama dengan setoran modal masing-masing Rp2 miliar untuk porsi 50%. Jika PT Eta mencetak laba Rp600 juta maka PT Epsilon hanya mengakui 50% dari laba tersebut.

Jurnal Pengakuan Laba Ventura Bersama

Akun

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

Investasi dalam PT Eta

300.000.000

 

Bagian Laba dari PT Eta

 

300.000.000

Angka Rp300 juta didapat dari 50% dikali total laba Rp600 juta. Hal ini mencerminkan hak PT Epsilon atas kenaikan aset neto di ventura bersamanya.

Pentingnya Pengungkapan yang Transparan

Di luar angka-angka jurnal PSAK 112 menekankan pada narasi pengungkapan. Perusahaan wajib menjelaskan pertimbangan manajemen dalam menentukan apakah mereka memiliki pengendalian penuh pengendalian bersama atau hanya pengaruh signifikan atas investee. Asumsi-asumsi ini sering kali lebih berharga bagi analis keuangan daripada sekadar angka di neraca.

Untuk mempelajari lebih banyak materinya silahkan akses slide yang tertera di samping ini.