PSAK 116 — Sewa & Contoh Penerapan Praktis

PSAK 116 mengatur akuntansi sewa. Bagi penyewa, hampir semua sewa diakui di neraca sebagai aset hak-guna dan liabilitas sewa. Liabilitas diukur nilai kini pembayaran sewa; aset hak-guna diukur dari liabilitas plus biaya awal; selanjutnya depresiasi dan amortisasi bunga.

🗓️ Update: 03 Jan 2026 ⏱️ Estimasi baca: 4 menit 🔤 ±773 kata
📘 Artikel PSAK

Apa Itu PSAK 116 Sewa?

PSAK 116 adalah standar akuntansi Indonesia yang mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi sewa untuk penyewa (lessee) dan pemberi sewa (lessor). PSAK ini merupakan penomoran baru dari PSAK 73 yang mengadopsi IFRS 16 Leases, dan berlaku efektif mulai 1 Januari 2024 sebagai bagian dari program harmonisasi penomoran SAK Indonesia dengan IFRS.

Dalam praktik, PSAK 116 terutama mengubah cara penyewa melaporkan sewa: hampir semua sewa kini masuk neraca sebagai aset hak-guna (right-of-use asset) dan liabilitas sewa.

     Fokus Utama PSAK: Mengakui hampir semua sewa dalam neraca, menggantikan model sewa operasi off-balance sheet, serta mengatur perlakuan aset hak-guna, liabilitas sewa, pengecualian sewa jangka pendek dan aset bernilai rendah, dan pengungkapan yang komprehensif.

     Dasar Standar yang Diacu: PSAK 116 adalah lanjutan dari PSAK 73 dan selaras dengan IFRS 16 Leases.

     Catatan Penomoran: Secara substansi sama dengan PSAK 73; perubahan utama ada pada nomor standar dan penyesuaian amandemen terbaru, termasuk isu liabilitas sewa dalam transaksi jual dan sewa-balik.

Memahami Mekanisme PSAK 116

Dari sudut pandang penyewa, PSAK 116 menggunakan model tunggal: hampir semua kontrak yang memenuhi definisi sewa diakui sebagai aset hak-guna dan liabilitas sewa. Penyewa tidak lagi membedakan antara sewa operasi dan sewa pembiayaan seperti di PSAK 30; pembedaan tersebut kini lebih relevan di sisi lessor.

Secara garis besar, mekanismenya sebagai berikut: pada tanggal permulaan sewa, penyewa mengukur liabilitas sewa sebagai nilai kini pembayaran sewa masa depan, lalu mengukur aset hak-guna sebesar liabilitas tersebut ditambah biaya langsung awal dan pembayaran di muka (dikurangi insentif sewa). Setelah itu, aset hak-guna didepresiasi selama masa sewa (atau umur manfaat jika ada opsi beli yang hampir pasti digunakan), sementara liabilitas sewa diamortisasi dengan metode suku bunga efektif.

     Kapan Kontrak Dikategorikan Sebagai Sewa: Ketika kontrak memberikan hak untuk mengendalikan penggunaan aset yang dapat diidentifikasi selama jangka waktu tertentu dengan imbalan.

     Inti Keputusan Akuntansi: Menentukan apakah kontrak mengandung sewa, mengestimasi masa sewa, memilih tingkat diskonto yang tepat, dan menentukan apakah akan menggunakan pengecualian sewa jangka pendek dan aset bernilai rendah.

Contoh Kasus: Sewa Gedung Kantor oleh PT Nusantara Retail

Skenario Kasus

PT Nusantara Retail menandatangani kontrak sewa gedung toko dengan pemilik properti selama 10 tahun untuk keperluan operasional ritel. Sebelumnya, di bawah PSAK 30 kontrak seperti ini dilaporkan sebagai sewa operasi dan hanya muncul sebagai beban sewa di laba rugi, sementara komitmen jangka panjang tersembunyi di catatan. Dengan penerapan PSAK 116, manajemen harus mengakui aset hak-guna dan liabilitas sewa di neraca.

Rincian Kontrak (Disederhanakan)

     Masa Sewa: 10 tahun.

     Pembayaran Sewa: Rp 1.200.000.000 per tahun, dibayar di akhir tahun.

     Opsi Pembelian: Tidak ada opsi pembelian di akhir masa sewa.

     Biaya Lain: Tidak ada insentif sewa atau biaya langsung awal material.

     Tingkat Diskonto: 8% per tahun (suku bunga pinjaman inkremental).

Analisis & Penerapan PSAK 116

1.    Identifikasi Sewa: Kontrak menyebutkan satu gedung tertentu dengan alamat jelas, dan PT Nusantara Retail mengendalikan penggunaan gedung (menentukan tata letak, jenis usaha, jam operasional, dan sebagainya). Kontrak ini memenuhi definisi sewa menurut PSAK 116.

2.    Pengukuran Awal Liabilitas Sewa: Liabilitas sewa diukur sebagai nilai kini dari pembayaran tahunan Rp 1,2 miliar selama 10 tahun pada tingkat diskonto 8%. Secara konsep, ini menggunakan rumus nilai kini anuitas, menghasilkan nilai liabilitas yang lebih rendah dari total nominal pembayaran.

3.    Pengukuran Awal Aset Hak-Guna: Aset hak-guna diukur sebesar liabilitas sewa (karena tidak ada biaya langsung awal atau insentif sewa dalam contoh ini). Aset kemudian didepresiasi secara garis lurus selama 10 tahun.

Tabel Konsep Perhitungan (Angka Ilustratif)

Komponen

Nilai (Rp)

Total Pembayaran Nominal (10 tahun)

12.000.000.000

Nilai Kini Liabilitas Sewa (Diskonto 8%)

± 8.046.000.000

Biaya Langsung Awal

0

Insentif Sewa

0

Aset Hak-Guna Awal

± 8.046.000.000

Catatan: Depresiasi garis lurus per tahun = sekitar Rp 804.600.000 selama 10 tahun, sementara beban bunga diakui berdasarkan saldo liabilitas yang menurun.

Kesimpulan

PSAK 116 menggiring perusahaan Indonesia menuju pelaporan sewa yang jauh lebih transparan dan berbasis neraca. Kontrak sewa jangka panjang yang sebelumnya tampak sebagai komitmen off-balance sheet kini berubah menjadi kombinasi aset hak-guna dan liabilitas sewa, yang secara langsung mempengaruhi rasio hutang, leverage, dan profitabilitas yang terlihat di laporan keuangan.

Bagi manajemen dan tim keuangan, keberhasilan implementasi PSAK 116 sangat bergantung pada pemetaan kontrak yang teliti, pemilihan asumsi diskonto dan masa sewa yang masuk akal, serta sistem yang mampu menghasilkan jadwal amortisasi dan depresiasi secara konsisten. Di sisi lain, analis dan investor mendapatkan gambaran yang lebih jernih tentang beban sewa jangka panjang dan kualitas arus kas perusahaan.

Pada akhirnya, PSAK 116 bukan hanya perubahan teknis akuntansi, melainkan juga alat penting bagi tata kelola dan pengambilan keputusan strategis, khususnya terkait keputusan beli vs sewa dan struktur pembiayaan aset. Perusahaan yang mampu mengelola transisi PSAK 116 dengan baik biasanya akan lebih siap menghadapi tuntutan keterbukaan informasi di pasar modal dan lingkungan regulasi yang terus berkembang.

Balancio Indo dapat membantu menyusun memo teknis PSAK 116, memodelkan jadwal sewa, dan menyesuaikan kebijakan akuntansi internal agar selaras dengan standar terkini tanpa mengorbankan kejelasan narasi bisnis di laporan keuangan.

Untuk mempelajari lebih lanjut, silakan akses materi pada powerpoint di samping ini.